AYO SALING MEMBANTU DALAM MMO





Saat kalian bermain MMO, sering membantu, atau dibantu nih? namanya juga game yang memerlukan interaksi antar pemain, maka saling membantu (atau dibantuin) adalah hal yang lumrah banged kok. Membantu saat GB, membantu memecahkan quest yang susah, atau membantu saat anggota tim mulai terdesak dengan serangan musuh. Pokoknya membantu sebisa kalian, dan bagaimana keperluannya.

Ada quest yang susah, karena harus menemukan NPC yang ngumpet jauh? Jika kalian tau tempat NPC itu, jangan segan-segan membantu pemain yang mungkin kebingungan. Sukur-sukur sih, bantuan kalian bermanfaat buat dia. Sehingga questnya akhirnya cepat selesai.

Ga hanya membantu aja kok. Dalam MMO, saya juga beberapa kali dibantuin oleh sesama pemain. Yang paling sering banged, tentu aja dibantuin leveling, alias GB. Ada yang membantu untuk ngejagain saya dari monster, ada pula yang ngebantuin untuk nyerang monster.

Jika kalian menanamkan sikap saling bantu, maka membuka pintu untuk mencari teman. Memiliki banyak teman adalah hal yang bijak di MMO. Daripada mencari musuh, dan selalu masuk daftar hitam karena sikap menyebalkan kalian.

Eh, sudah dibantuin.. tapi ogah untuk membantu. Buang deh jauh-jauh pikiran begini. Jangan mau hanya dibantuin aja, tapi saat ada teman butuh bantuan, kalian emoh. Misalnya aja ada anggota guild kalian yang butuh temen GB. Jika kalian tidak berhalangan/sibuk, yaaa, bantulah mereka.

Cape kk bantuin newbie, apalagi kalau dia nanya melulu.. Semua pemain mulai dari newbie lho. Bisa jadi newbie ini bener-bener baru dalam bermain MMO, sehingga sangat asing dengan keadaan di dalamnya. Beberapa newbie memang akan menanyakan hal-hal dasar, yang bagi kalian konyol banged. Misalnya aja kk, kalau beli senjata di mana ya? Aku ga ketemu nih. Jawablah dengan ringkas dan padat, juga jelas. Agar si newbie ga kebingungan, dan malah melancarkan pertanyaan-pertanyaan lainnya lagi.

Membantu memberi arahan dan petunjuk quest adalah hal yang biasa saya lakukan. Tapi, saat newbie meminta bantuan lain, biasanya saya tolak mentah-mentah. Tentu aja bantuan yang saya maksud, adalah bantuan dana. Nope. Saya lebih baik membantu mereka leveling, dan membiarkan mereka mengambil loot item. Ketimbang ngasih duit dengan Cuma-Cuma. Setidaknya saat saya membantu mereka leveling, mereka juga ada usaha. Bukan Cuma mengadahkan tangan dan ngemis-ngemis kk, minta uang, equipment, pot. Apalagi pas ga dikasih malah ngomel-ngomel. Uhuk.. ga nyaman banged. Tipe seperti ini pasti ga akan saya bantuin. Bukan maksud hati pelit sih. Tapi peminta-minta seperti ini sangat menyebalkan. Lebih baik dibantu sambil berusaha sendiri, ketimbang membantu cara instant, dengan langsung memberikan mereka uang dan equipment.

Oh ya, ingat selalu tata karma dan sopan santun juga saat minta bantuan. Setidaknya, gunakan kata-kata yang enak dan ga bikin yang ngebaca panas. Hindari kata-kata kayak Pelit lu. Ga mau bantuin gue, dasar dewa pelit.. Boro-boro dibantu, yang ada malah dicuekin. Kalau misalnya si pemain itu ga mau bantu, ya sudahlah. Tak usahlah nyari masalah.

Dan jangan lupa ucapkan terima kasih, saat kalian sudah dibantuin.
Komunitas game yang baik, juga dilandaskan dari sikap saling membantu dari kalangan gamernya. Komunitas itu bisa menjadi nyaman, dan bikin betah. Enak banged kan, main dalam game yang penghuninya ramah-ramah. Bayangkan main di game, yang penghuninya pelit bagi ilmu. Huh. Ga nyaman kan?

0 komentar:

ANALISA VIDEO TRAILER UNCHARTED 4 - A THIEF'S END




Setelah mengulas preview video trailer dari Batman: Arkham Knight di ajang E3 beberapa waktu lalu, sekarang giliran seri game masterpiece terbaru karya Naughty Dog yang bakal kita analisa dikit. Pastinya udah pada ngerti dong. Yup, it's none other than Uncharted 4: A Thief's End.

Dari trailer video yang berdurasi sekitar 2 menit ini, ngga cukup banyak petunjuk yang ditunjukin Naughty Dog seputar setting dari game Uncharted 4: A Thief's End.

Dari trailer video yang berdurasi sekitar 2 menit ini, ngga cukup banyak petunjuk yang ditunjukin Naughty Dog seputar setting dari game Uncharted 4: A Thief's End. Tapi dari kepingan petunjuk yang tercecer, Gamexeon bakal coba ulas apa yang sekiranya bakal terjadi di seri terbaru Uncharted ini.

Catatan: Spoiler Alert! Seperti biasa, artikel analisa akan berisi sedikit spoiler karena ulasan yang akan kita bahas soal Uncharted 4: A Thief's End ini juga akan sedikit menyinggung kilas balik dari setting waktu dan alur cerita dari seri Uncharted sebelumnya. So, kalo kalian ngga keberatan dengan spoiler dan pengen menganalisa isi trailer video Uncharted 4: A Thief's End bareng Gamexeon, silakan lanjut ke paragraf berikut.

MOTIF NATHAN "NATE" DRAKE KEMBALI BERTUALANG



Kombinasi kehebatan performa konsol PlayStation 4 dan Naughty Dog sebagai studio first-party milik Sony emang udah ngga perlu diragukan lagi. Hasilnya bisa kalian lihat sendiri di trailer video Uncharted 4: A Thief's End. Di awal video kita disapa dengan sudut pandang kamera yang meng-close-up wajah Nathan Drake yang (sepertinya) habis jatuh pingsan. Sepertinya dia habis kena pukul di bagian dahi dan ditinggal pergi oleh musuh (bebuyutan?)-nya yang bawa kabur sesuatu milik Nathan Drake yang berharga. Mungkin salah satu harta terpendam peninggalan Sir Francis Drake yang lain? Entahlah.

Seperti yang kita tahu selama ini sepak terjang Nathan Drake bertualang menempuh marabahaya yang hampir selalu merenggut nyawanya dan orang-orang di sekelilingnya, dia jalani cuma demi nyari pembuktian bahwa dia emang bener keturunan dari Sir Francis Drake, prajurit Inggris kebanggan Ratu Elizabeth yang berkeliling dunia dan konon punya banyak bekas peninggalan harta karun yang tersebar di muka bumi ini. Apakah alasan ini yang sekali lagi menyemangati Nathan Drake untuk kembali terjun ke petualangan yang berbahaya?

Di akhir cerita Uncharted 3: Drake's Deception, ketika Nathan Drake ditanya oleh Elena tentang keberadaan cincin peninggalan Sir Francis Drake miliknya, kita tahu bahwa cincin itu udah tenggelam dan terkubur bersama Marlowe dibarengi runtuhnya Ubar, kota yang hilang. Nathan Drake menjawab dengan hilangnya cincin kesayangannya itu, berakhir sudah petualangan berbahayanya itu. Lagipula cincin Sir Francis Drake yang bertorehkan kalimat,"Sic Parvis Magna" itu udah digantiin dengan cincin yang lebih berharga, yaitu cincin nikah yang jadi bukti otentik kalo di akhir Uncharted 3: Drake's Deception, Nathan & Elena emang menikah.

Fakta itu makin diperkuat dengan cincin nikah yang melingkar di jari manis tangan kiri Nathan Drake dalam trailer video Uncharted 4: A Thief's End.

Masih di bagian awal trailer, bangunnya Nathan Drake dari pingsan dibarengi dengan dialog antara Nathan Drake dengan sohib sekaligus mentornya, Victor "Sully" Sullivan yang terlihat bersetting waktu sebelum Nathan Drake memulai misi berbahayanya di Uncharted 4: A Thief's End. Dari dialog jelas terlihat setelah Nathan menikah dengan Elena, dia sempet pensiun dari bertualang cukup lama dan ada satu motif kuat yang bikin dia kembali mengambil resiko menjalankan misi yang bisa aja merenggut nyawanya sendiri.

Di trailer video Nathan Drake udah terlihat mulai menua dan ngga seprima dulu. Sepertinya di Uncharted 4: A Thief's End ini, dia udah menginjak usia 40-an. Berkat kehebatan developer maksimalin fitur dan spesifikasi PlayStation 4, kita bisa lihat muka Nathan Drake mulai dihiasi keriput dan beberapa uban di rambutnya. Karena kondisi fisiknya yang ngga lagi prima, dari dialog di awal misi dia berjanji dengan Sully kalo ini bakal jadi aksi terakhirnya. Dan Sully pun setuju buat ngebantu Nathan Drake sekali lagi.Seri Uncharted dikenal punya alur cerita yang mengambil latar belakang sejarah maupun kisah-kisah fakta/mitos terkenal di dunia. Nah di Uncharted 4: A Thief's End kali ini, Naughty Dog emang bener-bener "naughty" dengan ngasih petunjuk cuma sekelumit. Petunjuk ini ada di bagian akhir trailer dimana kalian bisa lihat banyak kurungan-kurungan berisi kerangka manusia yang dibiarin tergantung. Itu adalah salah satu bentuk hukuman mati yang disebut Gibbetingdan pernah populer di Eropa, terutama di sekitar wilayah Inggris.

Dari salah satu kurungan, kalo kalian jeli, kalian bisa baca potongan kalimat dari Alkitab yaitu Lukas 23:41 yang isinya,"For we receive the due reward of our deeds." (Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah). Potongan ayat ini berisi kisah tentang pencuri paling terkenal di Alkitab yang disalib di sebelah Yesus, dan di detik-detik terakhir hayatnya ia mengakui kejahatannya dan menerima hukumannya.

Oke, ini bikin kita bertanya-tanya apa yang pengen Naughty Dog sampaikan ke fansnya? Dari subtitel "A Thief's End" mengisyaratkan akan ada yang mati dalam seri Uncharted ini. Apakah Nathan Drake sendiri? Mengingat dia bisa dikategorikan sebagai "pencuri" karena sering berburu harta karun peninggalan bersejarah selama ini? Atau Sully yang juga punya latar belakang sebagai pencuri bayaran sekaligus mentor Nathan Drake? Tapi bisa jadi bukan harta benda yang mampu memaksa Nathan Drake untuk sekali lagi mengambil resiko menempuh misi berbahaya. Apakah ini berhubungan dengan Elena (atau kemungkinan anak mereka?) yang diculik dan beresiko terbunuh, sehingga mau ngga mau Nathan Drake harus menolong mereka biarpun artinya mengorbankan nyawanya sendiri?

Inikah salah satu bentuk "hukuman sang pencuri" yang dimaksud seperti yang dikisahkan dalam potongan ayat Lukas 23:41? Berharap aja dugaan gue di atas salah semua karena tentu aja kita ngga pengen dapet akhir yang tragis dari jagoan kita kan? Kita tunggu aja sampe Uncharted 4: A Thief's End nyampe di tangan kita tahun 2015 mendatang.

0 komentar:

Closed Beta Test, MapleStory Indonesia





Pada tanggal 2 Juni 2014 adalah waktunya closed beta test (CBT) dari MapleStory, game ber-genre 2D side scrolling RPG yang dirilis oleh PT Lyto Datarindo Fortuna di Indonesia. Game yang menampilkan grafis 2D berlatar belakang cerah dan penuh warna ini semakin menggemaskan dengan karakter chibidengan desain pixelated.

Ada 6 kelas yang dapat gamers pilih untuk berpetualang di dunia MapleStory dimana pada tahap CBT ini hanya menampilkan satu kelas yang dapat dipilih gamers saat membuatan karakter yaitu Resistance. Sedangkan kelas lain yang belum dapat digunakan yaitu Explolers, Cygnus, Aran, Evan dan Dual Blade.



Setelah proses pembuatan karakter selesai dan gamers siap masuk ke dalam permainan. Hal yang pertama kali dilakukan adalah berbicara dengan NPC yang memiliki simbol lampu berkelap-kelip di atas kepalanya. Itulah NPC yang menyediakan misi untuk dijalani.

Bagi gamers yang terbiasa menjalankan misi dengan fitur auto, MapleStory tidak menyediakan fitur tersebut sehingga gamers harus bergerak secara manual. Namun ada petunjuk dalam bentuk arah panah untuk memberikan arahan tentang lokasi mana yang harus didatangi untuk menyelesaikan misi yang sedang dijalankan.

Sebelum membaca ulasan CBT MapleStory, yuk nonton trailer-nya terlebih dahulu.


Setiap kelas memiliki keunggulannya sendiri-sendiri dimana pada Resistance ini keunggulan yang dimiliki dibagi secara merata mulai dari serangan, pertahanan, kecepatan dan kesulitan. Jika gamers memilih menjadi Resistance maka profesi yang dapat dipilih selanjutnya yaitu Battle Mage, Wild Hunteratau Mechanic.

MapleStory adalah game yang sangat sederhana, namun tetap dibutuhkan konsentrasi khusus untuk dapat mengerti sistemnya secara mendasar. Mayoritas kontrol yang dipergunakan pada game ini adalah di keyboard, walaupun gamers tetap membutuhkan mouse untuk perintah menggunakan item, memindahkan skill dari jendela skill ke tombol shortcut, atau memindahkan item dari inventory ke tombol shortcut.



Dunia MapleStory ditampilkan dalam kondisi yang sangat damai. Walaupun pada akhirnya ada pertarungan namun pertarungan itu ditampilkan dengan pemandangan bertarung yang sangat minim. Jadi gamers akan melihat gaya bertarung yang sederhana, lebih memperlihatkan ke efek visual skill, tidak ada darah dan angka-angka dari damage yang dihasilkan oleh serangan. Mengenai angka damage, kadang menjadi pemandangan yang kurang enak dilihat apabila musuh yang dihadapi berjumlah sangat banyak dan menutupi objek di layar.

Secara keseluruhan, MapleStory pada tahap CBT sudah cukup memuaskan. Hanya saja kekurangannya kelas yang dapat dimainkan hanya sedikit sehingga kru KotGa belum bisa mengeksplorasi karakter lebih jauh. Bagi gamers yang menyukai game online bergaya klasik, sederhana dan ceria maka MapleStoryadalah pilihan yang tepat.

Yuk main!

0 komentar:

Rival Knightsr





Pada era abad pertengahan dimana kerajaan dan para kesatria masih tersebar luas, terdapat sebuah permainan olahraga ekstrim bernama Jousting. Jousting merupakan sebuah permainan yang terdiri dari 2 orang kesatria penunggang kuda yang saling beradu dengan menggunakan lance atau tombak. Inilah ide tema yang digunakan Gameloft untuk game terbarunya, Rival Knights.

Tepat tanggal 5 Juni 2014 kemarin, game mobile Rival Knights diluncurkan baik di App Store untuk iOS dan Google Play Store untuk Android (versi Windows Phone akan segera menyusul). Disini, pemain akan berperan sebagai seorang kesatria yang mengikuti turnamen jousting dengan melewati dan mengalahkan 5 liga klan kerajaan untuk meraih ketenaran dan kejayaan.

Gameplay yang disuguhkan di game ini cukup mudah. Saat pertandingan akan dimulai, pada hitungan pertama lakukan tap pada layar untuk memulai berlari (jika Kotakers melakukannya dengan tepat akan memberikan tambahan booster kecepatan). Lalu sesuaikan posisi meteran tepat di area hijau dengan melakukan tap, terus lakukan sampai posisi Kotakers dengan musuh menjadi lebih dekat. Pada posisi ini, Kotakers harus menyesuaikan pointer ditempat yang sudah ditentukan secara random (terkadang bisa di posisi kepala, dada kanan atau kiri).

Lakukan ini dengan benar bukan berarti Kotakers bisa menang dengan mudah. Statistik karakter jauh lebih penting. Status kalian yang terdiri dari attack, defense dan speed yang kurang oke dari lawan bisa mengakibatkan kekalahan. Namun hal ini jarang terjadi jika 2 dari 3 status kalian masih lebih baik dari lawan (cuma unggul 1 status tidak menjamin kemenangan).

Bagaimana meningkatkan status tersebut? Gampang, Kotakers cukup meningkatkan equipment kalian atau membeli yang baru yang tentunya lebih baik lagi. Equipment Kotakers terdiri dari helm, jubah armor, kuda dan tombak. Sayangnya, hal ini yang justru menjadi kelemahan. Seperti yang sudah dijelaskan, untuk bisa memenangkan pertandingan status Kotakers harus lebih baik dari musuh. Itu artinya semakin bagus equipment yang dikenakan, semakin bagus juga status yang didapatkan.

Uang lagi-lagi menjadi peran penting disini. Tanpa itu Kotakers tidak bisa membeli yang baru atau melakukan upgrade pada equipment kalian. Uang disini terdiri dari koin gold dan gem (mata uang premium). Untuk bisa mendapatkan koin gold, cukup dengan memenangkan setiap stage yang ada (terkadang juga bisa mendapatkan gem).

Untuk bisa mengikuti stage atau level, diperlukan Royal Seal atau cap berwarna merah (mirip seperti energi). Royal Seal ini hanya dibatasi 6 buah saja, yang setiap beberapa menit akan terisi penuh lagi. Stage yang ada juga disisipkan beberapa misi yang jika diselesaikan memungkinkan pemain mendapatkan tambahan, entah itu power-up atau gem yang sudah disebutkan tadi.

Ada satu lagi cap berwarna biru atau disebut Social Seal. Dari namanya sudah bisa ditebak. Ya, Social Seal ini adalah energi Kotakers untuk mengikuti event multiplayer dengan pemain lainnya. Ada Feast of the Lion (event yang sedang berlangsung saat ini) dan ECHELON TOURNAMENT. Jadi jika Kotakers tengah kehabisan Royal Seal, Kotakers bisa mencoba multiplayer ini selagi menunggu Royal Seal terisi kembali.

Dari segi grafis sepertinya tidak perlu diragukan lagi. Gameloft kerap memanjakan para gamers mobile dengan game buatannya yang dibalut dengan grafis visual 3D yang memukau. Apalagi Rival Knightsdidesain menggunakan teknologi Unreal Engine yang pastinya mulai dari karakter sampai dengan lingkungan sekitar terlihat fantastis. Belum lagi dengan animasi motion-capture, efek slow-motion, real-time ragdoll physics, perubahan kondisi cuaca serta waktu dan sudut pandang kamera yang dinamis.

Demikian review yang sudah kru KotGa buat setelah memainkan game mobile terbaru Gameloft yang satu ini. Rival Knights termasuk game yang menarik untuk dimainkan. Namun sayangnya, kembali lagi kesenangan itu harus dibatasi dengan energi serta ketergantungan equipment untuk bisa memenangkan pertandingan disini. Tapi setidaknya, kita dimanjakan dengan grafis visual yang realistis.

0 komentar:

Tomodachi Life atau Tomodachi Collection: New Life


Tomodachi Life atau Tomodachi Collection: New Life adalah game ber-genre life simulator yang dikembangkan oleh Nintendo SPD Group 1 dan dirilis oleh Nintendo untuk konsol Nintendo 3DS. Game ini sudah dirilis di mulai tanggal 18 April 2014 di Jepang, tanggal 6 Juni 2014 di Amerika Utara dan Eropa, sedangkan baru dirilis di Australia tanggal 7 Juni 2014.

Game yang merupakan sekuel dari Tomodachi Collection, game eksklusif Nintendo DS ini bercerita tentang petualangan karakter, Mii, di suatu pulau yang dipenuhi oleh Mii, mahluk yang merupakanavatar yang digunakan untuk konsol Nintendo Wii, Wii U dan 3DS. Dalam berpetualang di Tomodachi Life, gamers dapat menggunakan Mii yang dapat dibuat pada fitur yang sudah disediakan, meng-importMii yang sudah ada atau dari QR code.

Pada pembuatan karakter Mii, gamers dapat mengkreasikan nickname, suara, tanggal ulang tahun, sifat, status, bentuk wajah dan beberapa kreasi lainnya. Kru KotGa memberikan perhatian lebih pada kostumisasi suara karakter yang mana gamers dapat menentukan tinggi rendahnya suara, kecepatan berbicara, logat bahasa dan beberapa pilihan lainnya.

Mii di Tomodachi Life dapat naik level setelah Mii menyelesaikan suatu pekerjaan. Hal menariknya adalah Mii dimungkinkan untuk membangun hubungan yang serius antara 2 Mii yang berlainan jenis yang pada akhirnya berakhir di pernikahan. Tidak ada pernikahan sesama jenis pada game ini, karakter sejenis hanya dapat menjadi teman tanpa ada peningkatan status menjadi cinta.

Status yang mungkin muncul saat Mii sedang berhubungan dengan Mii lain antara lain pertemanan, persaingan dan perasaan asing. Gamers dimungkinkan untuk mengganti penampilan kostum dari karakter agar terlihat lebih sesuai dengan gaya gamers. Tomodachi Life juga memaksimalkan fiturStreetPass dari Nintendo 3DS untuk memaksimalkan fiturnya.

Secara keseluruhan game ini merupakan life simulator di konsol Nintendo 3DS yang menyenangkan. Gaya permainannya tidak jauh berbeda dengan The Sims dan Animal Crossing, walaupun dari faktor grafis jauh berbeda apabila dibandingkan dengan The Sims terbaru. Apabila gamers ingin merasakan serunya kehidupan Mii, tidak ada salahnya untuk memainkan Tomodachi Life.

0 komentar:

Legends of Persia


Legends of Persia merupakan action adventure role-playing game (RPG) yang dikembangkan oleh Sourena Game Studio dan dirilis oleh Plug in Digital untuk gamers PC via Steam pada tanggal 3 Juni 2014.

Game dengan sudut pandang isometrik ini bercerita mengenai revolusi yang dilakukan oleh Keykhosro, putra dari Pangeran Persia yang ingin balas dendam kepada Raja Tooran, Afrasiab, atas kematian ayahnya.

Saat permainan atau petualangan berlangsung, karakter akan melawan banyak tanangan dan rintangan antara lain menghadapi gelombang serangan lawan secara masiv, melawan boss yang kuat, dan pada akhirnya bertarung dengan Afrasiab, pembunuh sang ayah.

Bagi gamers yang ingin memainkan game ini, berikuat adalah spesifikasi PC yang dibutuhkan.

0 komentar:

Akhirnya Game GTA V Bisa Dimainkan di PC


Game GTA V menjadi game yang dinantikan kehadirannya pada tahun lalu. Permainan petualangan ini sebelumnya hanya meluncur untuk PlayStation 3 dan Xbox 360.

Keputusan pengembang game Rockstar ini menuai protes dari sebagian gamer PC. Bahkan, pada Juli 2013, total petisi mencapai 200 ribu pendukung.

Petisi Change.org menyerukan kepada Rockstar Games untuk merilis versi PC dari GTA V, yang telah melampaui 200 ribu tanda tangan. Seruan para gamer yang memprotes, mengatakan bahwa ini adalah "malu yang besar", apabila GTA V tidak diumumkan untuk PC.

Ini mengingat komunitas penggemar GTA yang sebagian besar memainkan game tersebut di PC. Terkini, Microsoft-news, Selasa (10/6/2014) melaporkan bahwa GTA V hadir di PC dan Xbox One pada musim gugur tahun ini.

Musim gugur diprediksi antara September hingga Desember 2014. "Grand Theft Auto V akan mengambil manfaat penuh dari kekuatan PlayStation 4, Xbox One dan PC dengan perbaikan grafis dan teknis untuk memberikan tingkat detail baru yang menakjubkan," tulis keterangan yang dilaporkan melalui Microsoft-news.

Xbox One Meluncur di Rusia

Event E3 2014 juga menghadirkan Microsoft yang mengungkap informasi terbarunya. Perusahaan yang berkantor pusat di Redmond itu akan menyediakan Xbox One untuk gamer di Rusia.

Hadir satu hari setelah peluncurannya di Jepang, Xbox One bakal mendarat di Rusia pada 5 September 2014. Microsoft akan menawarkan paket Xbox One dengan Kinect atau tanpa Kinect.

China yang sebelumnya melarang konsol video game asing yang masuk ke negaranya, kini telah mencabut larangan tersebut. Perangkat hiburan generasi terbaru ini bakal menyambangi Negeri Tirai Bambu pada September 2014.

0 komentar:

Liputan Gathering Pertama World of Tanks Indonesia





Pada 8 Juni 2014 kemarin, Cyber World di Kampus Binus Anggrek tentu menjadi tempat yang dituju para pemain World of Tanks karena pada hari itu diadakan event World of Tanks Community Gathering pertama di Indonesia, disponsori oleh Wargaming Asia bekerja sama dengan MOL. Meskipun baru diluncurkan sekitar Oktober 2013 lalu di Indonesia, nyatanya antusiasme dalam game ini sangatlah besar. Terbukti dari banyaknya jumlah gamers yang datang untuk memadati lounge Cyber World mencapai 160 orang.




Acara dimulai pada pukul 11.00 diawali dengan registrasi para gamers bersama kakak-kakak SPG dengan setelan Army. Proses registrasi ini ternyata tidak berlangsung lama lho, karena para gamers sangat tertib dan kooperatif.





Selanjutnya, ada kata pembuka dari para panitia yang salah satunya adalah Sean Foong, Community Manager Wargaming Asia. Selain itu ada juga Jem Loh, Head of Marketing Wargaming Asia. Para pengunjung yang datang mayoritas adalah pemain World of Tanks dan mereka sudah membuat clan masing-masing. Sebenarnya tidak mengherankan karena pada hari itu, para panitia juga akan diadakan turnamen.



Tidak ketinggalan, para panitia membuka kesempatan pada para gamers untuk memberikan pertanyaan dalam sesi Question & Answer. Dalam sesi ini, banyak bocoran informasi-informasi yang tentunya menjadi berita baik bagi para pemain World of Tanks. Beberapa diantaranya:
Wargaming selaku developer World of Tanks sedang mencoba bekerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk mengadakan event yang berkaitan dengangame dan militer di Indonesia.
Wargaming akan mengadakan gathering setiap tiga bulan sekali, hanya saja untuk sekarang baru akan diadakan di Kota Jakarta saja.
Wargaming rencananya akan menyediakan layanan sistem Training Camp di Indonesia pada kuartal keempat tahun ini.
Wargaming berniat melakukan kerjasama dengan AFA, tapi untuk sekarang sedikit tertunda karena sebelum melakukan kerjasama, pihak AFA ingin melihat hasil dan antusiasme dari events yang diadakan oleh Wargaming terlebih dahulu.
Tahun depan, tepatnya bulan April, Indonesia akan menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang ikut menyelenggarakan event Anniversary bersama beberapa negara di Asia Tenggara lainnya.




Setelah sesi tanya jawab, saatnya sesi yang cukup ditunggu nih. Yap, it’s lunch time. Sekitar pukul 13.30, para pengunjung dipersilahkan makan siang di meja prasmanan. Sambil makan, para pengunjung saling berbincang satu sama lain. Sangat menyenangkan…




Setelah perut terisi, sesi makan siang pun berakhir dan langsung dilanjutkan dengan pembagian tim untuk melakukan turnamen. Setiap tim terdiri dari lima orang akan bertarung dalam 3 tahap. Hanya akan ada satu pemenang nantinya yang akan mendapat hadiah 50.000 Gold. Mau lihat keseruan saat turnamen?




Setelah melewati 3 tahap yang seru dan cukup memompa antusiasme para penonton, akhirnya Tim 4S1 sukses memenangkan turnamen ini dan berhak mendapatkan 50.000 Gold sebagai hadiahnya. Selamat ya…


Acara diakhiri dengan lucky draw yang akan mengundi beberapa hadiah lain seperti 3.000 Gold, 5.000 Gold, dan hadiah utama adalah Headset Razer kepada para pengunjung yang telah datang. Ternyata pada gathering kali ini, ada yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta lho, wahh, salut buat semangatnya…
Secara keseluruhan acara ini terasa cukup hangat dalam membangun komunitas. Mereka merasa sangat senang dan tentunya mengharapkan community gathering seperti ini akan terus diadakan lagi di waktu mendatang.

0 komentar:

Ed Boon dari NetherRealm Kenalkan Mortal Kombat Terbaru



Ed Boon, salah satu pembuat dari seri Mortal Kombat mengkonfirmasi melalui Twitter-nya bahwa Mortal Kombat berikutnya berjudul Mortal Kombat X. Game ini akan diluncurkan pada 2015. Game ini akan mengkombinasikan presentasi cinematik yang tak tertandingi dengan gameplay yang dinamis dan atau lebih di kenal lagi sebagai Mortal Kombat X

Mortal Kombat X saat ini sedang dikembangkan untuk perangkat PS3, PS4, Windows PC, Xbox 360 dan Xbox One menurut press release dari penerbit yaitu Warner Bros. Interactive Entertainment. NetherRealm akan mengenalkan Mortal Kombat X ini pada pagelaran E3 2014 minggu depan.


"Mortal Kombat selalu game fighting yang terbaik dan dengan Mortal Kombat X, kami ingin memanfaatkan kekuatan konsol new-gen untuk memberikan game yang intens kepada pemain." ungkap Boon, yang merupakan creative director NetherRealm. "Tim sudah bekerja keras untuk meyakinkan bahwa Mortal Kombat X akan memberikan pemain kepuasan kepada fans dengan karakter baru, mode game baru dan engine grafis yang baru."


Soundtrak yang hadir di trailer merupakan lagu dari Wiz Khalifa berjudul "Can't Be Stopped" yang ditulis secara ekslusif untuk trailer tersebut. Online play akan hadir dalam Mortal Kombat X dengan menawarkan "kontes online dimana semua pemain akan bertarung secara global untuk supremasi tertinggi." Dan pertama kalinya dalam sejarah, dalam seri ini, karakter akan tersedia dalam berbagai variasi, dimana pemain bisa melakukan tweaks untuk gaya bertarung dan strategi untuk tiap karakternya.



0 komentar:

Dragon Quest VIII Versi Mobile





Pada tahun 2013 lalu, perusahaan game asal Jepang, Square Enix, mengumumkan seri game Dragon Quest VIII: Journey of the Cursed King akan hadir di perangkat mobile. Tepat tanggal 12 Desember 2013 lalu, game ini tiba di pasar mobile Jepang. Lima bulan berikutnya, versi Inggris hadir untuk para penggemar Dragon Quest di luar Jepang.

Seperti yang sudah pernah Kotakers ketahui dan mainkan, Dragon Quest VIII adalah judul game PlayStation 2 ber-genre JRPG yang diluncurkan pada tanggal 27 November 2004 (Jepang) atau 15 November 2005 (Amerika Utara). Game yang juga menghadirkan kreator Dragon Ball, Akira Toriyama, sebagai salah satu artist-nya ini menceritakan tentang petualangan Kotakers sebagai karakter utama beserta rekannya, bertualang dengan tujuan untuk mengalahkan Dhoulmagus dan mematahkan mantranya yang sudah mengutuk sang raja juga tuan putri dari kerajaan Trodain.



Pada versi PlayStation 2, game ini mendapatkan respon yang luar biasa dari para gamers beserta kritikus game dari seluruh dunia. Tidak percaya? Kotakers bisa menengok fakta pada bulan September 2008 dimana total penjualan Dragon Quest VIII secara global sudah menembus angka 4,9 juta kopi. Di Jepang sendiri game ini menjadi game dengan penjualan terbesar untuk konsol PlayStation 2. Bagaimana dengan versi mobile-nya? Yuk disimak ulasannya oleh kru KotGa.

Tidak ada yang berubah jika kita menengok dari segi jalan cerita, grafis 3D pada karakter dan lingkungan serta animasi yang ditonjolkan. Perubahan yang mendasar tentu tampilan UI (User Interface) yang langsung Kotakers sadari bagi yang sudah memainkan yang versi PlayStation 2. Dengan single analogkontrol layar sentuh dibagian bawah, 4 tombol virtual yang terdiri dari menu opsi dibagian kanan bawah, menyalakan atau mematikan auto run, merubah posisi UI dan rotasi kamera. Ada juga map di bagian kanan atas layar.

Kontrol single analog ini termasuk baru dan mungkin terlihat aneh bagi yang pertama kali memainkan game mobile ini, apalagi ditambah dengan Kotakers memainkan ini dalam bentuk tampilan portrait. Untungnya ada opsi untuk merubah posisi UI, jadi Kotakers bisa memilih tipe yang sesuai dengan gaya bermain Kotakers. Meski kru KotGa merasa memainkan satu tangan cukup membuat lelah lengan.



Kekurangan juga terjadi pada kamera. Kotakers tentu akan merasa kesal ketika tengah jalan-jalan kota atau dungeon dan mendapati mengontrol kamera menjadi hal yang sulit dan cukup menyebalkan. Selain itu, dari segi musik Kotakers juga menyadari ada yang berbeda dengan versi mobile ini, yakni tidak adanya pengisi suara untuk para karakter dan musik orkestra yang mendamping kalian sepanjang permainan.

Sistem pertarungan disini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Masih mengandalkan mekanisme turn-based seperti pada versi konsol. Saat Kotakers bertemu dengan musuh, pilihan fight wisely menjadi pilihan awal dan tentu saja bisa Kotakers rubah. Tapi dengan itu saja, Kotakers masih bisa menguasai atau mengalahkan musuh. Yang baru disini adalah sistem tension. Dengan ini Kotakers bisa mengeluarkan kemampuan terbaik dari para karakter.

Fitur yang lain seperti meningkatan kemampuan karakter dengan poin skill yang didapatkan saat level upatau menggunakan monster sebagai rekan partner juga tidak berubah. Jika Kotakers adalah fans sejati seri ini harus patut berbahagia karena fitur kasino kembali hadir. Kotakers bisa kembali mencoba bingo, mesin slot dan roulette jika kebosanan dalam berpetualang tengah melanda.



Demikian review yang sudah kru KotGa buat setelah memainkan game Dragon Quest VIII: Journey of the Cursed King di smartphone Android LG G2. Bagi Kotakers yang tidak mempermasalahkan dengan kontrolsingle analog, minus dari segi pengisi suara dan musik orkestra, Dragon Quest VIII masih cukup bagus untuk ukuran game mobile. Dengan harga sekitar IDR 305 ribu, Kotakers bisa mendapatkan dan memainkan game ini tanpa IAP dan tanpa koneksi internet sama sekali. Hanya saja Kotakers harus menyediakan ruang memory internal yang cukup besar, minimal 1,5 GB.

0 komentar:

Dota 2


Dota 2 is a multiplayer online battle arena (MOBA) video game and the stand-alone sequel to the Defense of the Ancients (DotA) mod. Developed by Valve Corporation, the game was officially released on July 9, 2013 as a free-to-play title for Microsoft Windows, concluding a beta testing phase that began in 2011. OS X and Linux versions of Dota 2 were released on July 18, 2013. In most regions, Dota 2 is exclusively available through Valve's content delivery platform, Steam.
Each match of Dota 2 is independent and involves two teams, both containing five players and each occupying a stronghold at either end of the map. Located in each stronghold is a building called the "Ancient"; to win, a team must destroy the enemy's Ancient. Each player controls a "Hero" character and focuses on leveling up, collecting gold, acquiring items and fighting against the other team to achieve victory.
Development of Dota 2 began in 2009, with the hiring of DotA developer "IceFrog" to serve as the game's lead designer. Dota 2 was praised by video game critics, who lauded it for its engaging and rewarding gameplay experience, remaining faithful to its predecessor, while also increasing the level of production quality. However, Dota 2 was the subject of criticism for having a steep learning curve and inhospitable community. The game has become the most actively played on Steam, with highest daily peaks at over 800,000 concurrent players.


Gameplay

A standard match of Dota 2 prominently features the strongholds of two opposing factions, the Radiant and the Dire, containing critical structures called "Ancients", which are surrounded by a number of lesser buildings. The bases of these two factions are connected by three main paths, referred to as "lanes", which are guarded by defensive towers, as well as autonomous units called "creeps", which are periodically spawned in groups and traverse the lanes, attacking enemy units or structures they encounter. Towers and creeps serve to divide the map between the two teams and are often the focal point of skirmishes. The Dota 2 map is functionally symmetrical, despite having a number of critical differences conferring a variety of advantages and disadvantages to each side. The Radiant is based at the southwest corner of the map, while the Dire is based at the northeast corner; the two sides are divided by a river which runs perpendicular to the central lane. The two teams, typically composed of five players each, are pitted against one another to compete as the defenders for their respective Ancient.[6] Featured across the map are units referred to as "neutrals", which are not aligned to either faction and are primarily located in the forests; they constitute a fixed but recurring resource, though their strategic value may vary depending on the teams' and players' choices. Located on the northeast side of the river is a "boss" called "Roshan" whom it typically takes multiple team members to kill. Following his death, Roshan drops items that can significantly alter the course of a game.

The default map of Dota 2.
There are nine standard game modes and 107 "Heroes" in Dota 2. Heroes are strategically powerful player-controlled units with unique abilities; though many Heroes fill similar roles, each confers different benefits and limitations to a team. These Heroes start off very weak early in the game, but level up their abilities and statistics as they accumulate experience, up to a maximum level of twenty-five. The Heroes' methods of combat are heavily influenced by their primary property, which can be Strength, Agility, or Intelligence. Most game modes provide teams with some preparation time before the game begins so that they can balance their Hero selections, as the composition of the team may significantly affect their performance throughout the match. Because Dota 2 is highly team-oriented, the players must coordinate and plan with each other in order to achieve victory.
Players are provided with six inventory slots, which may be filled by purchasing items using gold, the primary currency of the game. Items vary in function- some merely enhance the statistics of a Hero, while others grant them additional active or passive abilities. Their price varies depending on their relative power. Though gold is granted steadily at a slow rate, the more expensive items are typically only purchased by Heroes who can accumulate gold at a much higher rate, usually by efficiently killing enemy creeps, Heroes, or structures. Killing non-player characters grants gold solely to the player who landed the final blow, whereas killing Heroes grants gold to the killer and any nearby allies, and destroying towers or Roshan gives gold to all players on the team. Along with the gold bounty, killing units and structures provides experience, allowing players to level up their Heroes as they complete objectives. "Denying" is a feature of the game which allows players to inhibit the enemy's ability to accumulate gold and experience by killing an allied unit or destroying an allied structure before an enemy can do so.
Seasonal events
Dota 2 feature a variety of seasonal events, which provides players with the option of playing the game with special game modes that alter the aesthetics and objectives. With the seasonal event game modes, the central focus of the game shifts away from the standard battle composition, in order to focus on new objectives central to the seasonal events. Thus far, there have been three seasonal events to take place, including the Halloween-themed Diretide event, the Christmas-themed Frostivus event, and the New Bloom Festival, which celebrates the coming of spring.

Development

Origins
The earliest version of Dota emerged in 2003, with the release of the custom Warcraft III: Reign of Chaos map called Defense of the Ancients (DotA), which was created with the Warcraft III World Editor by an anonymous editor called "Eul", who based its mechanics off a custom StarCraft map called Aeon of Strife. When the developer of Warcraft III, Blizzard Entertainment, released the expansion set The Frozen Throne in 2003, Eul ceased development of DotA, prompting other map makers to develop variants inspired by the original map, which would include new Heroes, items and other miscellaneous features. The variant that became dominant was DotA: Allstars, developed by Steve "Guinsoo" Feak, which incorporated features from others. With the assistance of a fellow clan member, Steve "Pendragon" Mescon, an official DotA community hub was created at the website dota-allstars.com. When Feak retired from developing DotA, the lead designer and developer role was handed over to his fellow clan member "IceFrog" in 2005.
The popularity of Defense of the Ancients increased significantly, as the map became a prominent electronic sports title. In a June 2008 article of video game industry website Gamasutra, editor Michael Walbridge cited DotA as the most popular mod in the world, as well as one of the most popular competitive titles, with its strongest presence in Asia, Europe and North America. In May 2009, as the game's emerging genre became more pronounced, IceFrog and Mescon had a falling out, prompting the latter to separate DotA from dota-allstars.com and develop a new official community at playdota.com. Meanwhile, Feak and Mescon had been employed at Riot Games and utilized the dota-allstars.com domain to promote League of Legends, a game inspired by DotA.
Concept
According to Valve's founder and managing director, Gabe Newell, the company's investment in Defense of the Ancients began with the collective interest of several veteran employees, including Team Fortress designer Robin Walker, programmer Adrian Finol and project manager Erik Johnson, all of whom had attempted to play at a competitive level. As their interest in the game intensified, they began corresponding with IceFrog, inquiring as to what long-term plans he had for the mod. The email conversations eventually culminated in Erik Johnson offering IceFrog a tour of the company's facilities, after which he was hired to develop a sequel. The first public notification regarding the development of the game was a post on IceFrog's blog on October 5, 2009, in which he disclosed that he would be leading a team at Valve. No further word was given until Dota 2 was officially announced on October 13, 2010, when the website of Game Informer revealed a general synopsis of the game and its development. As a result of the surge of traffic, Game Informer's servers were crashed. Erik Johnson addressed the confusion over the written form of the brand name, citing it as "Dota", rather than "DotA", due to its context as a concept, rather than an acronym for "Defense of the Ancients".
Shortly after a questions and answers session by IceFrog on the DotA official website in which he elaborated upon his new recruitment, Valve filed a trademark claim, which Gabe Newell discussed as a necessary measure for developing a sequel with the already identifiable brand name at Gamescom 2011. Steve Feak and Steve Mescon expressed their concern that Valve did not have the right to a trademark for the DotA name, due to their views that it was a community asset, so they filed an opposing trademark for "DOTA" on behalf of DotA-Allstars, then a subsidiary of Riot Games, on August 9, 2010. Rob Pardo, the executive vice president of Blizzard Entertainment, expressed a similar concern, explaining his perspective that the DotA name was an asset of their game's community. Blizzard acquired DotA-Allstars, LLC from Riot Games and filed an opposition against Valve in November 2011, citing their ownership of both the Warcraft III World Editor and DotA-Allstars, LLC as proper claims to the franchise. On May 11, 2012, Blizzard and Valve announced that the dispute had been settled, with Valve retaining the commercial franchising rights to the term "Dota", while non-commercial usage of the name could still be utilized.
Design

A screenshot comparison between DotA and Dota 2; the aesthetics of Dota 2's default design are based heavily around those of the original mod.
The preliminary design focus of Dota 2 was to translate the aesthetic aspects of its predecessor to the Source engine, while also expanding support for the core gameplay. Dota 2 features the factions of the Radiant and the Dire in the stead of the Sentinel and the Scourge respectively, with the characters' respective alignment preserved, while also re-establishing their individual character traits in a stand-alone form. Character names, abilities, items, map design and other fine details remain predominantly unchanged, but the Source engine allows for continued, scaled development to bypass engine limitations of the Warcraft III World Editor. The Dota profile matchmaking feature scales a player's automated placement with their estimated skill level, which supports the competitive experience. Unranked practice matches can also be played with other human players, AI bots, or alone. In the debut Q&A, IceFrog stated that Dota 2 would serve as the long-term continuation of the mod, building upon the original gameplay without making too many significant core changes that may alter the overall experience. According to Valve, the company contracted major contributors to DotA's popularity, in order to assist in developing Dota 2, including the mod's original creator known as "Eul", as well as loading screen artist Kendrick Lim of Imaginary Friends Studios. In addition, the composer of Warcraft III, Jason Hayes, was contracted by Valve to collaborate with Tim Larkin for developing Dota 2's musical score. IceFrog stated that in order to further emphasize Dota 2's premise as a continuation of DotA, contributions would remain consistent from sources outside the main development team.
To accommodate Dota 2, Valve updated the Source engine to include new features, such as high-end cloth modeling and improved global lighting. Valve also improved Steamworks, which includes a wider expansion of utilities, such as player guides and a coaching system. Dota 2 utilizes Valve's Steam software to provide social and community functionality for the game, while Steam users may save personal files and settings in their online accounts using the Steam Cloud. Dota 2 also features multiple options of live spectating in the tradition of competitive Valve titles. The game host has the option to fill open slots with AI bots. On November 14, 2013, Valve introduced the coaching system to allow experienced players to tutor newer players with special in-game tools. In addition to the online platform established by Steam, Valve introduced local area network (LAN) multiplayer connectivity to Dota 2 on September 23, 2013.
Valve implemented a tournament support feature in June 2012. Tournaments are available for spectating in-game via the purchase of tournament tickets in the Dota Store, which provide an alternative to viewing live streams online. The tickets allow players to spectate competitive matches in-game and to watch both live and completed matches, with a portion of every ticket purchased goes to the tournament organizers. In addition, teams may be formally identified by the game's software, which automatically recognizes games with players as being team matches and catalogs them as such.
Merchandise
The rising popularity of Dota 2 led Valve to produce apparel, accessories, prints, and a number of other products exhibiting stylized elements of characters and other elements from the game. In addition, Valve secured various licensing contracts with third-party producers, the first of which, a Dota 2 edition of the SteelSeries QcK+, was unveiled at The International 2011. On September 25, 2012, Weta Workshop, which developed the Aegis of the Immortal trophy for the champions of The International 2012, announced a prop product line that would include statues, weapons and armor based on Dota 2 thematic artwork. On February 10, 2013, the National Entertainment Collectibles Association announced a new toy line featuring Hero-themed actions figures at the American International Toy Fair.
Documentary
Main article: Free to Play
Leading up to the public unveiling of Dota 2 at The International 2011, Valve documented the lives and stories of three professional Dota players, Benedict "Hyhy" Lim, Danil "Dendi" Ishutin and Clinton "Fear" Loomis, and what the game and unprecedented scale of the tournament meant to them. In August of 2012, GameTrailers announced that Valve was developing the then-unnamed documentary. Throughout June of 2013, Valve conducted what they described as a private "beta testing" phase, in which they invited a small number of individuals to visit the company headquarters located in Bellevue, Washington, in order to offer early screenings of the documentary for input. When the invite was leaked to Kotaku, the vice-president of marketing at Valve, Doug Lombardi, confirmed the documentary's development and revealed its name to be "Free to Play". The documentary was released on March 19, 2014 and was distributed through outlets including Steam, iTunes and YouTube.
Release
After extensive internal testing, Dota 2 was first made visible to the public at Gamescom 2011, with the first edition of The International. To coincide with this event, Valve opened the sign-up for beta invitations; the first few invites were sent out shortly after Gamescom. During the event, Gabe Newell speculated that Dota 2 would likely ship in 2012, despite original plans for a full release in late 2011. On September 23, 2011, Valve scrapped its previous development and release plans, which would have kept the game in its closed beta phase for over a year. The new plan described by IceFrog in an announcement post looked to release an open beta as early as possible and to implement the remaining Heroes afterward. Simultaneously, Valve announced that the non-disclosure agreement for the beta was being lifted, allowing testers to discuss the game and their experiences publicly. After nearly two years of beta testing, Dota 2 transitioned into launch mode on June 21, 2013, and was officially released on July 9, 2013, with an active user based on three million players. Two months following the game's release, Gabe Newell claimed that updates to Dota 2 generated up to three percent global internet traffic. On December 16, 2013, the final restrictions against unlimited global access to Dota 2 were lifted after the game's infrastructure and servers were substantially bolstered.
As part of a plan to create a social network based around Dota 2, Gabe Newell announced in April 2012 that the game would be free-to-play, with an accentuation on player contributions to the community. On June 1, 2012, the Dota development team at Valve formally confirmed that the game would be free-to-play with no added cost for having the full roster of Heroes and item inventory readily available. Income for Dota 2 would, however, be maintained through the Dota Store, where players could purchase various exclusively cosmetic virtual goods, such as in-game items. Until the game's release, players were able to purchase an early access bundle, which included a digital copy of Dota 2, along with several in-game cosmetic items. The Dota Store comprises custom creations developed by Valve, as well as products from the Steam Workshop, which is a system in which users may submit creations for review by Valve and if successful, would be incorporated into Dota 2. The market model was fashioned after Team Fortress 2, which became successful in June 2011 and had reimbursed cosmetic designers with $3.5 million of income as of the free-to-play announcement. In January of 2014, Gabe Newell revealed that the average Steam Workshop contributor to Dota 2 made approximately $15,000 from their creations in 2013.
In order to abide by the standards set by the economic legislation of specific countries, Valve opted to contract with nationally-based developers for publishing. On October 19, 2012, the leading Beijing-based video game developer and publisher, Perfect World, announced the acquisition of the exclusive rights to publish and distribute Dota 2 in China. On November 9, 2012, a similar deal was made with the Tokyo-based developer and publisher, Nexon Co. Ltd. to publish and distribute in Japan and South Korea.

0 komentar:

Impressive “Super Smash Bros. Source” Video Imagines a Valve Fighting Game






What if Valve made a fighting game featuring a cast of characters from Left 4 Dead, Half-Life, Team Fortress 2, and Portal?

It’s probably never going to happen (unless they all start appearing as playable Heroes in Dota 2), but one talented animator created a video that imagines what the opening movie for that game might look like.

YouTube user Crazyhalo (via Polygon) explains that “Super Smash Bros. Source” is set to the style and tune of Super Smash Bros. Melee’s opening movie, with elements from both Super Smash Bros. Brawl and the first Super Smash Bros. for the Nintendo 64. Check out the comparison video below to see just how faithful and creative his recreation is.

So, who do you think would win in a fight? Gordon Freeman or the Heavy? Chell or the G-Man? The Boomer or Wheatley? Tell us in the comments below.

0 komentar: